Follow detikFinance
Jumat 21 Apr 2017, 13:18 WIB

Wawancara Menteri Kelautan dan Perikanan

Susi: Jenis Kelamin Bukan Hambatan untuk Sukses dan Berprestasi

Michael Agustinus - detikFinance
Susi: Jenis Kelamin Bukan Hambatan untuk Sukses dan Berprestasi Foto: Wahyu Daniel/detikFinance
Jakarta - Susi Pudjiastuti, perempuan pertama yang menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, membuktikan bahwa jenis kelamin bukan hambatan untuk sukses dan berprestasi.

Perempuan asal Pangandaran kelahiran 15 Januari 1965 ini menyedot perhatian publik karena berbagai gebrakan, keberanian, keberpihakannya pada nelayan, dan penampilannya yang eksentrik.

Sejak menjabat, Susi konsisten memerangi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing di laut Indonesia. Sepanjang 2016 saja, ada 236 kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan Susi. Keberaniannya mengundang decak kagum, menginsipirasi banyak orang, menjadikan Susi idola baru di negeri ini.

Pada Hari Kartini ini, detikFinance berkesempatan untuk mewawancara 'Kartini' di zaman modern ini pada Kamis (20/4/2017) kemarin. Susi membagikan pengalamannya untuk memotivasi perempuan-perempuan Indonesia lainnya, supaya juga sukses, berprestasi, dan berkontribusi untuk masyarakat. Berikut petikan wawancaranya:

Anda berada di dunia yang mayoritas dikerjakan oleh kaum laki-laki. Sebagai perempuan, bagaimana anda memimpin orang di Kementerian dan kalangan pengusaha yang mayoritas laki-laki?
Saya kalau kerja enggak pikir laki-laki atau perempuan. Saya enggak pernah merasa sendirian karena banyaknya laki-laki, enggak ada. Sama saja. Kalau orang lain bisa, ya bisa. Saya tidak pernah merasa keperempuanan saya itu handicap atau obstacle, biasa saja.

Tidak pernah merasa terhalang atau tidak mampu karena perempuan?
Tidak pernah. Tadi saya bilang, keperempuanan saya tidak pernah terasa oleh saya oleh saya sebagai sesuatu yang handicap, obstacle, 'oh itu tidak bisa karena perempuan'. Harus dikerjakan, ya dikerjakan. Simple.

Apakah Ibu Susi tidak merasa takut ketika membuat gebrakan-gebrakan, seperti penenggelaman kapal-kapal pencuri ikan?
Saya sebagai seorang profesional harus berani mengeksekusi Undang Undang dan tidak pernah merasa sebagai seorang individu yang berani banget. Saya tidak takut sih untuk tegas mengeksekusi Undang Undang, itu kan tugas saya, amanat Undang Undang. Sebagai pejabat negara, ya amanah ini harus dijalankan, Undang Undang melindungi saya.

Itu profesionalisme, saya sign, saya terima sumpah saya sebagai seorang menteri, berarti saya mesti melaksanakan amanat Undang Undang. Jadi bukan karena terpaksa, bukan karena berani, tapi karena profesionalisme, sebagai pejabat negara ya amanat Undang Undang mesti kita jalankan. Tidak boleh tidak, tidak ada choice, itu saja.

Hal-hal apa saja yang Ibu Susi rasakan sebagai tekanan dalam menjalankan tugas negara?
Kalau bikin policy baik, tujuannya membantu masyarakat dengan baik, terus diprotes. Terus ada provokator yang menyesatkan masyarakat. Memprovokasi masyarakat yang baik, yang sudah menerima, yang ingin memperbaiki, ingin maju. Itu saya jengkel sekali.

Kadang-kadang tekanan ya misalnya saya tidak bisa ngomong leluasa, situasi publik tidak mengizinkan. Saya pikir so far bisa saya manage.

Bisa diceritakan bagaimana pandangan Ibu Susi terhadap peran perempuan di sektor perekonomian Indonesia saat ini?
Saya rasa in the background peran wanita itu sangat penting. Kalau kita lihat di Yogya misalnya, kalau lihat pasar-pasar di Jawa, rata-rata yang dagang, yang menggerakkan ekonomi itu wanita. Bukan laki-laki yang berdagang di pasar. Jadi saya pikir peran wanita dalam ekonomi di Indonesia sangat signifikan.

Tipikal karakter budaya kerja orang-orang Indonesia suku apapun, saya lihat perempuan itu menggerakkan ekonomi. Kalau tidak di depan sebagai planner atau organizer, paling tidak doing thing. Saya lihat sangat penting.

Ibu Susi terlihat segar terus, apa kuncinya?
Kalau fresh relatif. Hari ini rasanya lengket, kepanasan. Optimis dan positif saja. Kalau tidak mampu ya sudah. Kalau masih bisa, sampai mana kerjakan. Gampang saja.

Apa saran anda terhadap wanita-wanita di Indonesia, supaya bisa sukses seperti anda?
Kita stop mempermasalahkan gender. Kerja, bergerak, berkarir, berprestasi tanpa mikir 'saya perempuan', 'saya tidak boleh ini', 'saya tidak boleh itu', 'saya harus diistimewakan'. Stop itu. Jangan pikir gender itu handicap, persoalan. (mca/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed