Follow detikFinance
Senin 17 Jul 2017, 06:52 WIB

Pria Ini Dropout Kuliah dan Jadi Triliuner di Umur 30 Tahun

Tung Desem Waringin - detikFinance
Pria Ini Dropout Kuliah dan Jadi Triliuner di Umur 30 Tahun Foto: Getty Images
Jakarta - Mungkin untuk sebagian orang memiliki pendidikan tinggi dan juga didukung dengan kondisi lingkungan yang memadai, menjadi syarat penting untuk bisa meraih kesuksesan luar biasa. Namun kita tidak bisa menebak dengan pasti apa yang akan terjadi pada karir seseorang di kemudian hari.

Sebagai bukti, ada seorang mahasiswa drop out yang dengan segala keterbatasannya mencoba untuk membuktikan bahwa dirinya bisa mengembangkan diri bahkan mencapai kesuksesan besar dengan caranya sendiri. Ia adalah Aaron Levie yang saat ini dikenal sebagai CEO Perusahaan Box, layanan penyimpanan data digital berbasis komputasi awan.

Nyatanya sebelum mencapai kesuksesan seperti saat ini, ia pernah berada pada kondisi yang sangat dilematis. Namun dengan keberanian untuk keluar dari zona aman, pria berambut ikal ini berhasil membuktikan eksistensi diri bahkan menyabet gelar triliuner muda di usia 30 tahun. Selengkapnya tentang kisah Aaron Levie, bisa rekan-rekan simak pada berikut ini.

Awal Karir Aaron Levie Membangun Box
Aaron Levie mempunyai ketertarikan pada dunia teknologi sejak masih muda.

Dan langkah besar diambil ketika ia lulus dari Mercer Island High School, lalu melanjutkan pendidikan di University of Southern California. Di sinilah Ia mulai berkeinginan untuk mengembangkan perusahaan teknologi mandiri. Tepatnya di tahun 2004, kala itu Ia mendapatkan tugas kuliah tentang perkembangan penyimpanan data digital di beberapa perusahaan besar. Dari situ ia menangkap adanya peluang bisnis untuk menyediakan layanan penyimpanan data pada komputasi awan atau yang sering disebut cloud storage.

Setelah itu ia mulai berpikir untuk menggali lebih dalam potensi bisnis yang berhasil ia tangkap tersebut. Ia menelepon puluhan perusahaan dan organisasi untuk menanyakan bagaimana mereka menyimpan data digital. Dari situ keyakinan Levie semakin tinggi akan inovasi bisnis yang ia ingin bangun.

Setelah memikirkannya dengan matang, bersama seorang rekan yakni Dylan Smith, mereka berdua mulai mengembangkan konsep pelayanan penyimpanan awan yang menyasar target perusahaan dan organisasi di kawasan Amerika. Tepatnya di tahun 2005, layanan Box pertama kali tercetus dan mulai membuka usaha.

Drop Out Kuliah Dan Berbagai Tantangan Bisnis
Di 2005 juga, Levie mengambil cuti dari universitas untuk fokus menggarap bisnis Box. Dari kantor awal yang ada di Mercer Island, untuk membawa perusahaan Box naik ke tingkat yang lebih tinggi mereka memindahkan kantor di Berkeley California. Dari situ perjalanan Levie yang resmi menyandang 'gelar' drop out, penuh dengan tantangan. Di 2007, layanan jasa penyimpanan awan sudah mulai banyak dikembangkan oleh perusahaan lain.

Bagi perusahaan Box, hal ini tentunya menjadi tantangan sekaligus ancaman keberlangsungan bisnis mereka. Namun berkat kerjasama yang baik dan juga kerja keras untuk membangun inovasi layanan penyimpanan data digital yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, perlahan Box terus dipercaya oleh para kliennya yang mayoritas perusahaan besar di Amerika.

Perkembangan Layanan Box
Di 2012, Box mulai menjalankan perl bisnis ke wilayah lain yakni di benua Eropa. Kemudian, layanan Box terus mengalami perkembangan hingga 'menjajah' hampir seluruh wilayah di dunia. Saat ini pengguna layanan Box, sudah tersebar dan berhasil menjadikan perusahaan ini sebagai salah satu pilihan utama jasa penyimpanan data berbasis komputasi awan.

Dari situ pencapaian sang founder Aaron Levie dalam hal finansial tentunya juga ikut terdongkrak naik. Dalam taksiran beberapa situs ekonomi dunia, kekayaan dari Levie sudah mencapai lebih dari US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun kurs saat ini.

Yang menarik dari sosok Aaron Levie adalah dia masih terus mempertahankan gaya hidup sederhana yang ia lakukan sejak masa berjuang dulu. Bersama mobil sedan keluaran lama yang sudah menemani sejak ia berkuliah, Levie terlihat lebih nyaman menyantap menu makanan di restoran cepat saji. Bahkan kabarnya, satu-satunya barang yang tergolong mewah yang ia miliki adalah sebuah perangkat iPhone yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari.

Kerja keras yang dibalut dengan keyakinan tinggi akan mencapai kesuksesan, menjadi senjata utama seorang Aaron Levie hingga berhasil mencapai posisinya saat ini. Serta didukung dengan gaya hidup yang tetap sederhana meskipun sudah menjadi jutawan, menjadi pelajaran hidup tambahan yang bisa kita contoh.

Mau Menjadi Kaya Atau Bahkan Lebih Kaya di Tahun 2017? Download Sekarang Juga "61 Cara Menjadi Kaya by Tung DW dan Robert T.Kiyosaki" seharga Rp 997.000. Khusus Untuk 100 Orang Pembaca detikFinance Hari Ini, Saya Kasih GRATIS, Klik di Sini Untuk Download. (wdl/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed