Follow detikFinance
Rabu 10 May 2017, 19:01 WIB

OJK Rutin Sosialisasi, Kenapa Masih Banyak Korban Investasi Bodong?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
OJK Rutin Sosialisasi, Kenapa Masih Banyak Korban Investasi Bodong? Foto: Ari Saputra
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rutin menggelar sosialisasi untuk mencegah semakin banyak korban akibat praktik investasi bodong. Sosialisasi dilakukan untuk mencegah masyarakat tertipu dengan investasi yang memiliki iming-iming bunga tinggi.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L Tobing mengungkapkan, masih banyaknya korban akibat praktik investasi bodong tidak terlepas dari bebasnya akses internet. Melalui dunia maya, para pelaku menawarkan investasi dengan keuntungan di atas wajar yang membuat masyarakat tergiur.

Penawaran investasi bodong, umumnya dilakukan dengan modus money game alias memutar uang dengan risiko tinggi, investasi emas bodong, hingga sektor lainnya.

"Pertama dengan adanya kemajuan teknologi informasi orang-orang tidak bertanggungjawab menawarkan berbagai cara di internet. Penawaran ini tidak henti-hentinya," jelas Tongam kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Gayung bersambut, kebanyakan masyarakat mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan tinggi yang diberikan. Sehingga bertemu antara pelaku investor bodong dengan masyarakat yang menginginkan kekayaan dalam waktu singkat.

"Sisi lain,masyarakat kita mudah tergiur dengan iming-iming tinggi," ujar Tongam.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Soetiono mengungkapkan, OJK rutin menggelar sosialisasi untuk mencegah semakin banyaknya korban akibat praktik investasi bodong.

"Pertama melakukan edukasi di setiap event yang kita lakukan selalu diselipkan apa ciri-ciri untuk mengenali tawaran yang tidak bertanggung jawab," tutur Titu.

Selain itu, OJK pun menindaklanjuti laporan investasi bodong yang masuk yang kemudian diproses hukum.

"Terus di-follow up melakukan penelitian," tutur Titu.

Mengenai uang masyarakat yang hilang akibat investasi bodong, Titu mengatakan, bahwa kasus tersebut diselesaikan antara kedua belah pihak baik masyarakat yang menjadi korban maupun pelakunya melalui mekanisme hukum.

"Tanggung jawab antar para pihak dia jadi harus sadar risiko hilang," tutup Titu. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed