Follow detikFinance
Rabu 10 May 2017, 17:15 WIB

Jurus OJK Genjot Orang RI Makin Melek Keuangan

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Jurus OJK Genjot Orang RI Makin Melek Keuangan Foto: Ari Saputra
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan berbagai upaya guna mengejar target inklusi keuangan atau kemudahan masyarakat mendapatkan akses ke lembaga jasa keuangan 75% di 2019. Langkah awal yang sudah dilakukan adalah dengan membuat Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) seiring dengan diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2016.

SNKI menjadi acuan dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia, dengan harapan semakin banyak masyarakat Indonesia memiiki kemudahan akses ke lembaga keuangan.

Ketua Dewa Komisioner OJK, Muliaman Hadad mengungkapkan, pilar pertama dalam SNKI adalah edukasi keuangan yang sudah rutin dilakukan OJK di beberapa daerah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan ragam lembaga keuangan.

"Pertama edukasi keuangan saya kira sudah banyak kegiatan edukasi dilakukan yang selama dalam 3 tahun ini," tutur Muliaman dalam Jumpa Pers Perkembangan Program Inklusi Keuangan di Gedung OJK, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).

Selain itu, masyarakat yang memiliki tanah dan bangunan juga harus memiliki bukti surat yang kuat. Sehingga nantinya surat ini bisa menjadi agunan dalam mencairkan pinjaman dalam memulai atau mengembangkan bisnisnya.

"Dengan sertifikasi formal hak dan tanah masyarakat punya akses leuangan," tutur Muliaman.

Selanjutnya, adalah fungsi intermediasi dan saluran distribusi keuangan. Lewat cara ini, akses masyarakat mendapatkan akses kredit menjadi mudah, salah satunya lewat kredit usaha rakyat (KUR) yang tahun ini dialokasikan Rp 110 triliun.

"Pemerintah keluarkan KUR bunga rendah sehingga mudah diakses," kata Muliaman.

Distribusi pembiayaan tidak hanya dilakukan melalui perbankan, dengan menjamurnya financial technology (fintech), masyarakat pun bisa semakin mudah mendapatkan pembiayaan.

Upaya pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk non tunai pun sebagai langkah untuk meningkatkan inklusi keuangan hingga 75% di 2019.

"Layanan keuangan dengan mendorong non cash pemberian bantuan sosial banayk dikerjakan membuka akses keuangan lebih luas," ujar Muliaman.

OJK Targetkan 1 Juta Agen Bank Tanpa Kantor di 2020

OJK menargetkan ada 1 juta agen layanan keuangan tanpa kantor (Laku Pandai) di 2020 mendatang. Hadirnya agen Laku Pandai diharapkan bisa meningkatkan inklusi atau melek keuangan masyarakat Indonesia ke lembaga keuangan yang ditargetkan mencapai 75% di 2019.

Saat ini, berdasarkan data OJK, ada sekitar 300.000 agen Laku Pandai yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

"Sampai hari ini ada 300.000 agen Laku Pandai di dusun-dusun, desa-desa. Dalam 3 tahun ke depan ingin mencapai 1 juta agen, kalau perlu jangan sampai 3 tahun bisa kurang dari itu," jelas Muliaman

Jumlah agen Laku Pandai, lanjut Muliaman, perlu digenjot untuk meningkatkan inklusi keuangan di berbagai daerah. Agen Laku Pandai umumnya merangkap sebagai pemilik toko kelontong hingga penjual pulsa yang mudah ditemui masyarakat di sekitar rumah.

Dengan hadirnya agen Laku Pandai di tengah pemukiman, diharapkan bisa mengubah kebiasaan masyarakat untuk menabung dengan menyisihkan pendapatannya secara harian.

Pemahaman agen Laku Pandai terhadap produk perbankan perlu dilatih. Sehingga bisa menarik minat masyarakat untuk menabung. "Agen-agen juga mampu menerangkan produknya apa aja. Bank juga harus rajin training membina kemampuan teknis pekerjaan terus didorong," tutur Muliaman.

OJK Raih Penghargaan Internasional

OJK mewakili Indonesia juga meraih penghargaan internasional Global Inclusion Award 2017 atas program inklusi keuangan. Indonesia terpilih sebagai pemenang penghargaan Global Inclusion Award 2017 untuk regional Asia dan Pasifik yang diberikan oleh Child and Youth Finance International (CYFI) dan negara G20 bekerjasama dengan Pemerintah Jerman selaku tuan rumah penyelenggaraan G20 tahun 2017.

"Beberapa waktu lalu dapat pengakuan internasional terutama 3 hal dengan adanya SNKI, perlindungan konsumen, dan literasi keuangan," tutur Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S. Soetiono.

Dalam meraih penghargaan ini, Indonesia mengungguli India dan Pakistan dalam tahapan penialaian final untuk kawasan Asia dan Pasifik.

Para juri sepakat bahwa Indonesia menunjukan komitmen kuat untuk meningkatkan literasi dan inklusi masyarakat Indonesia yang tampak dari berbagai upaya untuk memenuhi target inklusi keuangan 75% di 2019.

Berdasarkan penilaian Dewan Juri, Indonesia dianggap berhasil mengembangkan strategi literasi dan inklusi keuangan dengan beragam pendekatan. Dengan adanya Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) dan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI), OJK dan beberapa Kementerian dan Lembaga (K/L) juga dianggap berhasil membangun sinergi positif.

Berdasarkan hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan OJK pada 2016, mencatat indeks literasi sebesar 29,7% dan indeks inklusi 67,8%. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan 2013 di mana indeks literasi tercatat 21,8% dan indeks inklusi 59,7%.

"Penghargaan ini menunjukan program dan kebijakan di bidang edukasi dan perlindungan konsumen sudah berjalan sesuai yang diharapkan," tutur Kusumaningtuti.

Child and Youth Finance International (CYFI) merupakan jaringan internasional yang berbasis di Amsterdam, Belanda dengan fokus pada peningkatan kapasitas keuangan bagi generasi muda dan anak-anak. (mkj/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed