Follow detikFinance
Senin 20 Mar 2017, 10:43 WIB

BI Bicara Soal Risiko Liberalisasi Aliran Modal di G20

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
BI Bicara Soal Risiko Liberalisasi Aliran Modal di G20 Foto: Dok. Akun FB Sri Mulyani
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo turut hadir dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 di Baden-Baden, Jerman. Agus menyoroti soal risiko yang muncul dari kebijakan liberalisasi atau keterbukaan aliran modal pada pasar keuangan.

Aliran modal di Indonesia sudah begitu terbuka sejak 35 tahun lalu. Meskipun manfaatnya sangat terasa dalam pembiayaan perkonomian, namun hal itu juga menimbulkan risiko. Terutama ketika ada volatilitas aliran modal yang berlebihan.

Dalam pandangan BI, perlu adanya manajemen aliran modal (capital flows management atau CFM), sebagai pelengkap kebijakan makroekonomi yang sehat guna melindungi ekonomi dan stabilitas keuangan domestik dari dampak rambatan global yang negatif. Indonesia menerapkan prinsip dan panduan CFM yang disusun dalam Institutional View dari IMF .

Demikianlah siaran pers BI terkait hasil pertemuan G20 yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, Senin (20/3/2017).

Hal lain yang dibahas tentang resiliensi keuangan, di mana G20 berkomitmen menuntaskan implementasi agenda reformasi sektor keuangan secara tepat waktu dan konsisten. BI mendukung upaya mengatasi kerentanan struktural dari kegiatan pengelolaan aset, shadow banking, over the counter (OTC) derivatives, Central Counterparties (CCP), permodalan Basel 3, dan risiko misconduct. Indonesia juga mendukung kerangka struktural yang akan mengevaluasi dampak dari implementasi reformasi keuangan global untuk perbaikan ke depan.

Dalam pengembangan sektor keuangan, inovasi digital dinilai memberikan manfaat dan kesempatan bagi perkembangan jasa keuangan sekaligus potensi risiko yang perlu dikelola. Untuk itu, G20 terus mendukung dan memantau pengembangan keuangan digital serta menyambut baik rencana identifikasi isu-isu pengaturan dan pengawasan keuangan digital dari perspektif stabilitas keuangan. Dalam kaitan ini, BI menyampaikan kemajuan Indonesia melalui pembentukan Fintech Office.

Dalam area keuangan inklusif, BI juga terus mendukung kerjasama Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI) dalam meningkatkan akses dan literasi keuangan untuk kelompok rentan dan UMKM. Sebagai contoh konkret, Indonesia telah dapat menyalurkan dana bantuan sosial kepada kelompok rentan (Government to People) secara non tunai menggunakan sistem perbankan melalui Layanan Keuangan Digital (LKD). Hal ini secara signifikan mampu menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked) dan mendorong berkembangnya ekosistem non tunai bagi UMKM di Indonesia.

BI juga mendukung fokus Presidensi Jerman yang menekankan pada pentingnya implementasi komitmen negara G20 pada dokumen yang dikenal dengan Growth Strategy, khususnya yang terkait dengan komitmen reformasi struktural.

Terkait penguatan resiliensi, Indonesia mendukung agenda Presidensi Jerman dalam penyusunan Panduan Resiliensi (Note of Resiliency) sebagai rujukan yang bersifat tidak-mengikat bagi negara G20 guna memperkuat resiliensi ekonomi, di tengah meningkatnya ketidakpastian global terkait dengan arah kebijakan negara maju, risiko geopolitik, dan tren proteksionisme.

Upaya penguatan resiliensi itu juga didukung dengan penguatan Jaring Pengaman Keuangan Global (Global Financial Safety Net atau GFSN), dengan IMF berperan utama, dan adanya kolaborasi antara Jaring Pengaman Keuangan Regional (Regional Financial Arrangement atau RFA) dan IMF. Dalam hal ini, Indonesia menyambut baik pengembangan instrumen bantuan likuiditas baru IMF serupa fasilitas swap, yang diperuntukkan bagi negara anggota dengan fundamental ekonomi baik. Indonesia berharap agar instrumen baru itu segera tersedia serta agar G20 mendukung IMF dalam finalisasi instrumen baru tersebut. (mkj/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed