Follow detikFinance
Senin 06 Mar 2017, 15:27 WIB

Nasib Saham Operator Taksi Pasca Kolaborasi Online

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Nasib Saham Operator Taksi Pasca Kolaborasi Online Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Dalam dua tahun terakhir ini, masyarakat khususnya di Jakarta sangat menikmati kehadiran transportasi umum secara online mulai dari ojek hingga taksi online. Sebab, aplikasi yang tersedia untuk pemesanan cukup mudah plus tarif yang dikenakan pun sangat kompetitif.

Kehadiran Go-car, Grabcar, hingga Uber, menawarkan tarif yang jauh lebih murah dibandingkan taksi konvensional, tak heran kalau pengguna taksi konvensional pun berbondong-bondong beralih ke taksi online.

Akibatnya, pendapatan taksi konvensional seperti Blue bird dan Express Transindo Utama diperkirakan tergerus hingga ke kisaran 10% pada akhir tahun lalu. Melihat ancaman persaingan kehadiran taksi online ini bakal berujung panjang, taksi konvensional pun mulai merajut kolaborasi dengan harapan bisa menopang turunnya pendapatan.

Namun cara kolaborasi yang dipilih kedua taksi konvensional ini cukup berbeda dan pada akhirnya memberi dampak yang berbeda pula terhadap kinerja mereka.

Menurut Analis Bahana Sekuritas, Gregorius Gary, sebenarnya jumlah pengguna taksi tidak bertambah alias tetap meski pun keberadaan taksi online memberi tarif murah, yang ada cuma perpindahan pelanggan saja, dari yang tadinya menggunakan taksi konvensional, sekarang jadi pengguna taksi online.

Sehingga dengan adanya kolaborasi antara kedua operator taksi dengan taksi online maka permintaan atas taksi konvensional akan kembali.

Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan oleh sekuritas plat merah ini atas promo yang ditawarkan oleh kolaborasi antara taksi online dan konvensional, tampaknya kerja sama antara Go-car dengan taksi Blue Bird lebih rasional dibandingkan kolaborasi antara uber dengan taksi Express.

Dalam kondisi normal, Uber memberlakukan tarif Rp 4.032/km, namun mereka memberi diskon 70%. Sedangkan Grab memberikan tarif Rp 3.441/km, dengan harga promo mendapat potongan 30%.

"Berdasarkan hitungan yang dilakukan Bahana, kerja sama antara Go-car dengan Blue Bird, Gojek memberikan subsidi antara 20-50% dari tarif normalnya Rp 4.459/km, jadi sebenarnya subsidi yang diberikan Gojek lebih rendah dari subsidi yang diberikan oleh Uber yang menawarkan potongan antara 25-70%, dan Grab memberikan potongan sekitar 25-75%," terang Gregorius.

"Memang kalau kita lihat sekilas seolah-olah pihak Gojek rugi karena memberikan subsidi kepada Blue Bird sebab tarif yang dibayarkan penumpang sebesar tarif yang ada di aplikasi Go-car, sedangkan untuk kekurangan tarif normal yang diberlakukan taksi Blue Bird Akan dibayarkan pihak Gojek, namun ternyata angkanya tidak sebesar yang kami perkirakan sebelumnya," katanya.

Dengan skema kolaborasi ini, kata Gregorius, pihak Blue bird tentunya diuntungkan karena jumlah penumpang diperkirakan akan naik, plus mereka masih bisa mendapat tarif normal, sedangkan pihak Gojek juga diuntungkan karena armada Go-car menjadi bertambah.

Melalui skema kerja sama ini, Bahana Sekuritas memperkirakan pendapatan perusahaan berkode saham BIRD ini bakal naik ke kisaran Rp 5,3 triliun pada akhir 2017, dari Rp 4,85 triliun yang diperkirakan pada akhir 2016 (financial report Blue Bird belum dipublikasikan), padahal akhir 2015, operator taksi ini mengantongi pendapatan sebesar Rp 5,47 triliun.

Laba bersih diperkirakan naik ke level Rp 565 miliar pada akhir 2017, dari estimasi Rp 494 miliar pada akhir tahun lalu. Pada 2015, sempat mengantongi laba sebesar Rp 824 miliar.

Tak heran kalau Bahana merevisi rekomendasi saham BIRD dari Hold menjadi Buy dengan target harga Rp 4.750, dari kisaran harga saat ini sekitar Rp 4.000-an.

Sementara itu, PT Express Transindo Utama belum bisa bernapas lega meski mereka sudah bekerja sama dengan Uber karena tarif yang dibayarkan oleh penumpang yang memesan lewat aplikasi Uber adalah sesuai dengan harga yang berlaku di Uber, tanpa ada subsidi yang dibayarkan oleh pihak Uber kepada manajemen taksi Express. Jadi pihak yang diuntungkan adalah Uber, sedangkan Express belum bisa menikmati hasil.

Belum lagi sejumlah masalah internal yang masih menggerogoti operator taksi kedua terbesar di Indonesia ini. Akibat persaingan tarif taksi sejak kehadiran taksi online, perusahaan berkode saham TAXI ini menurunkan besaran setoran harian yang harus dibayarkan sopir menjadi Rp 150.000 dari yang sebelumnya Rp 240.000 karena sepinya penumpang yang mau menggunakan taksi konvensional.

Meski setoran harian diturunkan, beberapa sopir masih tak mampu memenuhi setoran tersebut sehingga akhirnya keluar dari Express.

Dengan berbagai permasalahan yang masih ada, pihak manajemen akan mengambil empat langkah pada tahun ini yakni memutuskan untuk menutup beberapa pool taksi Express yang kinerjanya tidak bagus, mengurangi jumlah karyawan, menjual aset-aset perusahaan yang layak untuk dijual serta akan melakukan restrukturisasi pinjaman.

Dengan estimasi kinerja TAXI yang masih suram, Bahana memperkirakan pendapatan pada akhir tahun ini hanya naik sedikit ke Rp 688 miliar, dari pendapatan tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp 644 miliar, pada akhir 2015, operator taksi ini masih bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 970 miliar.

Melalui berbagai upaya pembenahan yang coba dijalankan manajemen pada tahun ini, laba bersih diperkirakan bisa membaik ke level Rp 8,8 miliar, dari perkiraan rugi tahun lalu yang kemungkinan mencapai Rp 120 miliar, bandingkan dengan pencapaian 2015, TAXI mengantongi laba bersih sebesar Rp 32 miliar.

Melihat proyeksi kinerja Express yang belum menemukan titik cerah, Bahana merekomendasikan Reduce saham TAXI dengan target harga Rp 135, dari rata-rata harga saham saat ini sebesar Rp 156. (ang/dnl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed