Berita Lain
-
Sabtu, 04/02/2012 14:03 WIB
SBY Kasih Aset ke 3 BUMN Perhubungan Rp 2,7 Triliun -
Sabtu, 04/02/2012 13:07 WIB
Ngumpetin Data Pajak, Bank Tertua Swiss Digugat AS -
Sabtu, 04/02/2012 12:14 WIB
Duh! Sekelas BPOM dan MUI Saja ada Pungli -
Sabtu, 04/02/2012 11:37 WIB
Tarif Tol Jagorawi-Cimanggis Ditetapkan Rp 3.500 -
Sabtu, 04/02/2012 10:58 WIB
Walah! Kenaikan Upah Minimum Jadi Kampanye Kepala Daerah -
Sabtu, 04/02/2012 10:42 WIB
Kenaikan Upah Jadi 'Lonceng Kematian' Pengusaha Kecil
Indeks Berita
Rumor Saham
Zafrina Development Tambah Kepemilikan di LMPI?
Berkembang kabar di pasar salah satu pemegang saham mayoritas PT Langgeng Makmur Plastic Tbk (LMPI) yakni Zafrina Development Ltd. akan menambah....
0 Komentar | Balas Tanggapan
0 Komentar | Balas Tanggapan
Peluang Usaha
Korban Perampokan Ini Bangkit dan Sukses Berbisnis Alat Pertahanan
Mahasiswa ini pernah menjadi korban kejahatan di Jakarta, barang-barang dagangannya ludes dirampok. Tapi ia bangkit dan kini menuai sukses dari bisnis alat-alat keamanan.
Sosok Dan Peristiwa
Wanita Cantik Ini Raup Rp 383 Miliar dari Start-Up dengan 14 Staf
Usianya belum 40 tahun, tapi wanita cantik ini akan segera masuk dalam jajaran orang muda kaya di Australia. Bisnisnya adalah merangkul orang-orang yang 'diabaikan' perusahaan besar.
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 862.000
-
Rp 1,415.000
Forum Finance register | login
Thread Pilihan
Jumat, 03-02-2012 15:20 WIB
Dahlan Iskan: Orang Manja & Cengeng Itu Bukan Pengusaha
Posted by: kaptenDF
Senin, 06/09/2010 17:17 WIB
Tak Mau Terjebak Utang, Pemerintah Hati-hati Setujui Anggaran
Ramdhania El Hida - detikFinance
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, APBN harus dikelola dengan hati-hati dan prudent mengingat ancaman krisis ekonomi masih berpotensi terjadi pada 2011 jika mengamati perekonomian global yang belum terlalu pulih.
"Oleh sebab itu kita harus mengelola APBN secara prudent, bukan konservatif. Pokoknya prudent. Dengan defisit 1,7%, kita anggap prudent yang tidak terlalu memberatkan sisi utang," tegasnya.
Hatta menilai salah satu pengelolaan APBN yang prudent adalah dengan melakukan efisiensi belanja di sejumlah pos yang tidak terlalu penting untuk kemudian dialihkan untuk menambah anggaran belanja infrastruktur.
"Misalnya pembangunan gedung baru, itu bisa ditunda dengan memanfaatkan gedung yang sudah ada. Perjalanan dinas yang tidak perlu ditunda, dan kegiatan-kegiatan yang overheat yang bisa ditunda," ujarnya.
Artinya, tegas Hatta, proporsi belanja modal ke depannya harus lebih besar dibandingkan belanja pegawai. Dengan demikian, APBN dapat mendorong pembangunan infrastruktur dasar sekaligus berperan sebagai stimulus ekonomi.
"Kalau kita bicara menambah dari porsi yang ada, tentu kita harus menggeser (anggaran belanja) dari pos-pos tertentu. Kecuali kita ingin menaikkan defisit anggaran dan kita belum sampai ke situ," ujarnya.
Hatta menilai saat ini waktu yang tepat untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun, harus disadari pendanaannya tidak hanya bisa mengandalkan APBN, tetapi perlu juga melibatkan swasta melalui skema kemitraan (public private partnership).
"Jadi iklim ini mendorong masuk infrastruktur mendorong pertumbuhan sektor riil. Untuk infrastruktur dasar, misalnya membangun waduk, infrastruktur
pangan, irigasi, memang itu porsinya pemerintah. Tetapi juga termasuk mendorong infrastruktur dasar ke PPP, seperti penyediaan air bersih dan sehat untuk masyarakat, dan perumahan," tandasnya.
Selain itu, belajar dari kegagalan Eropa yang telalu menggenjot stimulus fiskal, pemerintah juga tak akan gegabah dengan mengeluarkan banyak anggaran stimulus sehingga defisit terjaga dan utang tidak terus membengkak.
Menurutnya, alokasi anggaran stimulus yang berlebihan di Eropa menyebabkan sejumlah negara dihadapkan pada beban defisit yang terlalu tinggi. Pada akhirnya, lanjut Hatta, hal ini berdampak mengurangi kepercayaan para pelaku ekonomi.
"Misalnya Yunani yang tidak mampu membayar utang yang berakibat kepada krisis kepercayaan. Artinya (APBN) harus dikelola secara prudent," ujarnya.
(nia/dnl)
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Komentar terkini (0 Komentar) ·
Follower Komentar 0
Berita Terpopuler
-
Sabtu, 04/02/2012 17:33 WIB
Wow! Utang RI Dekati Rp 2.000 Triliun di 2012 -
Sabtu, 04/02/2012 15:02 WIB
Tarif Listrik Naik 10%, PLN Bakal Raup Rp 8,9 Triliun -
Sabtu, 04/02/2012 14:03 WIB
SBY Kasih Aset ke 3 BUMN Perhubungan Rp 2,7 Triliun -
Sabtu, 04/02/2012 12:14 WIB
Duh! Sekelas BPOM dan MUI Saja ada Pungli -
Jumat, 03/02/2012 12:33 WIB
Wanita Cantik Ini Raup Rp 383 Miliar dari Start-Up dengan 14 Staf
Komentar Terpopuler
-
Sabtu, 04/02/2012 - 09:19
Buruh Demo di Tol, Pengusaha Rugi Rp 100 Miliar Lebih -
Jumat, 03/02/2012 - 22:17
Ini Dia Cara PNS Palsukan Biaya Perjalanan Dinas -
Sabtu, 04/02/2012 - 14:26
Sofjan Wanandi Curhat Soal Demo Buruh di Ultah Apindo -
Sabtu, 04/02/2012 - 11:30
JK: Paling Baik dan Paling Pintar Menaikkan Harga BBM -
Selasa, 31/01/2012 - 16:28
Pemerintah 'Pancing' DPR Naikkan BBM Rp 500-1.500/Liter
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com






Sending your message


---125x125.gif)

