Berita Lain
-
Kamis, 09/02/2012 13:08 WIB
PPATK Laporkan Lagi 6 Transaksi Mencurigakan PNS Kemenkeu -
Kamis, 09/02/2012 12:36 WIB
Dijiplak, Kao Gugat Sabun BIORF -
Kamis, 09/02/2012 12:07 WIB
Ssst! Ini Dia Bocoran Revisi Aturan Waralaba -
Kamis, 09/02/2012 12:04 WIB
Awas! Polisi Bakal Kawal Sensus Pajak -
Kamis, 09/02/2012 09:16 WIB
Transaksi Mencurigakan Miliaran Rupiah Milik 153 PNS Diendus PPATK -
Kamis, 09/02/2012 08:31 WIB
Pemerintah Serius Bangun Jalur Trans Sumatera
Indeks Berita
Rumor Saham
Bergerak Menuju Rp 500, Saham TELE ditawar ZTE?
Perusahaan provider telekomunikasi asal China, ZTE, dikabarkan berniat menguasai sebagian saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE). Harga....
0 Komentar | Balas Tanggapan
0 Komentar | Balas Tanggapan
Peluang Usaha
Bos Coffee Toffee Ini Kembali Bangkit Setelah Kena Tipu
Sebagian orang mungkin sudah tak asing dengan pemilik Coffee Toffee Odi Anindito. Dibalik kesuksesannya saat ini membangun gerainya, Odi ternyata pernah tertipu dan kemudian bangkit lagi.
Sosok Dan Peristiwa
Tinjau Sapi di Jambi, Dahlan Iskan Setir Mobil Sejauh 40 Km
Hari ini Menteri BUMN Dahlan Iskan mengunjungi peternakan sapi milik PTPN VI di Jambi. Ada yang unik, mantan Dirut PLN menyetir sendiri sejauh 40 Km. Wush...
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 862.000
-
Rp 605.000
Forum Finance register | login
Thread Pilihan
Rabu, 08-02-2012 15:12 WIB
PNS Pajak & Bea Cukai Terbanyak Lakukan Transaksi Mencurigakan
Posted by: kaptenDF
Selasa, 14/07/2009 09:40 WIB
BI: Inflasi 2009 Bisa 4%
Wahyu Daniel - detikFinance
Foto: Wahyu/detikFinance
"Kalau inflasi kita lihat tahun ini memang bisa di sekitar 4%. Kalau sesuai dengan prediksi tidak kena shock lagi, itu bisa," ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (13/7/2009).
Hartadi mengatakan faktor yang mendukung inflasi 2009 bisa mencapai 4% antara lain karena produksi dalam negeri mencukupi.
"Kemudian imported inflation tidak ada, karena harga komoditi di dunia turun semua, kemudian pasokan pangan selama semester I ini kelihatan sangat baik sekali," katanya.
Namun Hartadi mengatakan, tekanan inflasi 2010 perlu diwaspadai karena pemulihan ekonomi bisa memicu peningkatan permintaan sehingga potensi inflasi meningkat.
"Tekanan dari demand baik dari domestik maupun dari luar negeri sudah mulai ada di 2010, beda dengan 2009. Kemungkinan dengan perbaikan recovery dunia, harga komoditas biasanya ikut naik, minyak salah satu contohnya, minyak dan palm oil," tuturnya.
Dikatakan Hartadi dengan kemungkinan harga komoditi yang naik di 2010, maka tarif listrik dan PAM akan turut berubah. "Tapi mudah-mudahan perubahan itu nggak terlalu besar sehingga tekanannya bisa kita perhitungkan," imbuhnya.
Sementara untuk BI Rate yang diperkirakan bisa mencapai 6% sampai akhir 2009, Hartadi tidak berani berspekulasi.
"Kalau BI Rate itu bukan hanya inflasi yang sekarang saja, tapi harus lihat apakah ada tekanan paling tidak sampai tahun depan, kalau nanti sudah recover global domestik semua recover, demand pressure-nya akan naik, belum lagi kalau ada harga-harga komoditi yang naik seperti minyak, itu akan menambah tekanan pada inflasi, itu mungkin terjadi tahun depan di 2010," paparnya.
Selain itu, menanggapi kemungkinan berlanjutnya pemerintah SBY, Hartadi mengatakan ini akan meningkatkan kepercayaan investor.
"Kalau kita lihat para investor yang penting confidence, dicari keadaan ke depan, kalau ketidakpastian berkurang itu akan menambah confidence banyak investor yang wait and see," ujarnya.
Kemudian menanggapi rencana Moody's yang dikabarkan akan mereview rating Indonesia lebih cepat, Hartadi mengatakan hal itu wajar melihat prospek ekonomi Indonesia yang bagus.
"Prospek ekonomi Indonesia dengan situasi yang berat di 2009, masih survive apalagi kalau ditambah dengan recovery ekonomi dunia," katanya.
Kemudian dengan ketahanan Indonesia yang kuat dimana jumlah cadangan devisa mencukupi dan juga kerjasama Bilateral Swap Agreement (BSA) menjadi pertimbangan.
"Saya kira begitu, Moody's juga saya kira melihatnya seperti itu, bahwa resiliensi dari Indonesia karena kita punya cadangan devisa yang cukup, kalaupun terjadi shock kita punya bantalan lain, BSA dolar maupun currency swap seperti yen dan reinmimbi," pungkasnya.
(dnl/lih)
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Komentar terkini (0 Komentar) ·
Follower Komentar 0
Berita Terpopuler
-
Kamis, 09/02/2012 14:20 WIB
Waduh! 21.143 Unit Rumah Murah Terancam Tak Terjual -
Kamis, 09/02/2012 11:27 WIB
Diremehkan Tawar Bank Mutiara Rp 6,7 Triliun, Ini Jawaban Bos Yawadwipa -
Kamis, 09/02/2012 14:23 WIB
Ini Ide Marzuki Alie Tekan Subsidi BBM -
Kamis, 09/02/2012 10:59 WIB
Tinjau Sapi di Jambi, Dahlan Iskan Setir Mobil Sejauh 40 Km -
Kamis, 09/02/2012 13:40 WIB
Wajib Bangun Rumah Minimal Tipe 36 Diundur Tahun Depan?
Komentar Terpopuler
-
Kamis, 09/02/2012 - 11:17
Wow! Utang RI Dekati Rp 2.000 Triliun di 2012 -
Kamis, 09/02/2012 - 13:17
SBY: Ada Jutaan Orang Tidur Tak Nyenyak karena Perut Lapar -
Senin, 06/02/2012 - 09:58
Pemerintah Dikritik Hobi Ngutang -
Kamis, 09/02/2012 - 07:50
Pendapatan Per Kapita Orang Indonesia Naik 17% Jadi Rp 31 Juta -
Senin, 06/02/2012 - 15:10
Amankan Subsidi, Cukup Naikkan BBM Rp 1.000!
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com






Sending your message


---125x125.gif)

