Berita Lain
-
Jumat, 20/01/2012 07:28 WIB
6 Tips Hidup Bebas Utang -
Senin, 16/01/2012 08:14 WIB
Perhatikan 8 Hal Ini Sebelum Stop Bekerja dan Mulai Usaha Sendiri -
Selasa, 10/01/2012 08:20 WIB
5 Kesalahan Umum Investor Pemula -
Senin, 09/01/2012 07:29 WIB
6 Alasan Mengapa Bisnis Baru Lebih Sering Gagal -
Jumat, 06/01/2012 07:45 WIB
Tips Menutup Kartu Kredit -
Kamis, 29/12/2011 07:24 WIB
8 Resolusi Meningkatkan Investasi di 2012
Indeks Berita
Rumor Saham
Zafrina Development Tambah Kepemilikan di LMPI?
Berkembang kabar di pasar salah satu pemegang saham mayoritas PT Langgeng Makmur Plastic Tbk (LMPI) yakni Zafrina Development Ltd. akan menambah....
0 Komentar | Balas Tanggapan
0 Komentar | Balas Tanggapan
Peluang Usaha
Bos Coffee Toffee Ini Kembali Bangkit Setelah Kena Tipu
Sebagian orang mungkin sudah tak asing dengan pemilik Coffee Toffee Odi Anindito. Dibalik kesuksesannya saat ini membangun gerainya, Odi ternyata pernah tertipu dan kemudian bangkit lagi.
Sosok Dan Peristiwa
Wanita Cantik Ini Raup Rp 383 Miliar dari Start-Up dengan 14 Staf
Usianya belum 40 tahun, tapi wanita cantik ini akan segera masuk dalam jajaran orang muda kaya di Australia. Bisnisnya adalah merangkul orang-orang yang 'diabaikan' perusahaan besar.
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 862.000
-
Rp 1,419.000
Forum Finance register | login
Thread Pilihan
Rabu, 08-02-2012 15:12 WIB
PNS Pajak & Bea Cukai Terbanyak Lakukan Transaksi Mencurigakan
Posted by: kaptenDF
Rabu, 22/04/2009 08:21 WIB
Mengenal Bursa Saham Negeri Ginseng
Indro Bagus SU - detikFinance
(Foto: Reuters)
perusahaan-perusahaan Indonesia yang berminat mencatatkan sahamnya di Korea.
Sejarah bursa Korea dimulai pada 1956 dengan berdirinya Korea Stock Exchange (KSE). KSE hanya menyediakan fasilitas perdagangan saham. Ketika itu, bursa Korea belum menyandang nama KRX. Namun pada tahun 1996, Korean Securities Dealers Automated Quotations (KOSDAQ) berdiri yang kemudian dilanjutkan dengan berdirinya Korea Future Exchange (KOFEX) pada 1999.
KOSDAQ melayani transaksi perusahaan-perusahaan skal kecil, sedangkan KOFEX menyediakan fasilitas transaksi derivativ dan kontrak berjangka. Baru pada 2005 ketiga bursa tersebut melebur alias merger di bawah platform yaitu KRX.
Hingga akhir 2008, KRX telah berhasil mencatatkan 1.801 perusahaan, terdiri dari 763 perusahaan yang tercatat di KSE dan 1.038 perusahaan tercatat di KOSDAQ. Total kapitalisasi pasar KRX mencapai KRW 683 triliun terdiri dari KSE sebesar KRW 623 triliun dan KOSDAQ sebesar KRW 60 triliun di akhir 2008.
Rata-rata nilai transaksi KRX di akhir 2008 mencapai KRW 6,3 triliun, terdiri dari KSE sebesar KRW 4,7 triliun per hari dan KOSDAQ sebesar KRW 1,6 triliun per hari.
Selama periode Januari hingga Maret 2009, KRX telah berhasil menambah 5 perusahaan tercatat baru, tiga di KSE dan dua di KOSDAQ. Jumlah emiten KRX hingga akhir triwulan I-2009 sebanyak 1.806 emiten, terdiri dari KSE 766 emiten dan KOSDAQ 1.040 emiten.
Berdasarkan peringkat yang diberikan oleh The Financial Times Stock Exchange (FTSE) atau indeks bursa saham London, KRX menduduki peringkat yang cukup baik di dunia. KSE menduduki peringkat ke 11. KOSDAQ menduduki peringkat ke dua di dunia dalam kategori New Market.
Indeks kontrak berjangka KRX menduduki peringkat ke 4 di dunia. Indeks produk Kontrak Opsi Saham (Option) KRX menduduki peringkat nomor wahid di dunia. Perdagangan obligasi KRX menduduki peringkat ke dua di Asia.
Menarik untuk disimak, KRX bahkan menyediakan perdagangan kontrak berjangka untuk komoditas daging babi, selain komoditas emas dan valuta asing.
Berdasarkan berbagai prestasi itulah, KRX kini membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan multinasional di dunia yang berminat mencatatkan saham (listing) di bursa Korea, tak ketinggalan tentunya, Indonesia.
"Korea kini merupakan salah satu pintu gerbang di pasar Asia. KRX merupakan salah satu bursa yang memiliki prospek cukup baik di dunia. Kami mengundang perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia untuk bergabung bersama kami," ujar Head of Asia-Pacific/Europe Listing Promotions KRX, Jung Suk JO di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Selasa (21/4/2009).
Jung menjabarkan beberapa poin yang menurutnya bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan-perusahaan yang berminat listing di KRX.
"KRX memiliki tingkat likuiditas transaksi yang cukup tinggi di dunia. Pada tahun 2008, KRX menduduki peringkat likuiditas transaksi nomor dua setelah NYSE," ungkap Jung.
Jung juga mengatakan, investor-investor di Korea memiliki tingkat permintaan yang tinggi khususnya pada saham-saham kategori asing. Poin ini, lanjut Jung, bisa menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan-perusahaan yang berminat listing di KRX.
"Meningkatnya demand pada saham-saham asing selama beberapa tahun terakhir, ditambah dengan banyaknya perusahaan-perusahaan asing yang listing di KRX akan semakin mendorong investor local lebih atraktif dalam bertransaksi," ujarnya.
Kokohnya basis investor di Korea juga diharapkan Jung bisa menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke KRX. Menurut Jung, KRX mencatat pertahanan yang cukup baik dalam menghadapi kejatuhan pasar modal dunia
menjelang akhir 2008.
"Sepanjang 2008, ketika investor asing di seluruh dunia menarik likuiditasnya, market di Korea cenderung lebih stabil terutama didorong oleh basis investor yang kokoh," ujar Jung.
Poin lainnya yang dinilai bisa menjadi acuan adalah diversifikasi industri yang merata di KRX. Komposisi industry yang menjadi bagian dari KRX terbesar dikuasai oleh industry manufaktur (26%), posisi kedua diduduki oleh industry jasa (16%) dan ketiga industry kimia (12%).
"Sisanya cenderung merata di kisaran 6-10% seperti kesehatan, konstruksi, financial, elektronik, dan lain sebagainya," jelas Jung.
KRX juga menawarkan biaya listing (listing fee) yang kompetitif disbanding bursa-bursa lainnya di dunia. Sebagai contoh, listing fee di KOSDAQ hanya menelan kocek sebesar US$ 1.299. Bandingkan dengan listing fee di NASDAQ yang
mencapai US$ 102.500.
"Selain itu, KRX juga memiliki regulasi yang sejalan dengan standar global, sehingga investor asing ataupun perusahaan asing yang listing di KRX tidak perlu khawatir akan perbedaan regulasi yang prinsipil," ujarnya.
Biaya transaksi yang berlaku di pasar modal Korea juga tidak terlalu besar. Jung mengatakan, secara umum broker di KRX menerapkan biaya transaksi sebesar 0,3% untuk transaksi reguler dan 0,25% untuk transaksi online.
Perlu dicatat, KRX merupakan bursa di kawasan Asia yang memiliki teknologi terkini dalam sistem transaksi online (online trading). Menurut Jung, mayoritas broker di Korea sudah migrasi ke sistem online trading.
"Lebih dari 60% transaksi di Korea dilakukan dengan secara online. Hanya 40% yang masih menggunakan sistem transaksi reguler. Investor di Korea melihat bahwa online trading jauh lebih efisien ketimbang transaksi reguler. Para broker di Korea juga sudah memiliki teknologi yang bagus dalam sistem online trading," papar Jung.
KRX menargetkan 10 emiten baru di 2009. "Target kami tahun ini akan ada 10 perusahaan yang listing di KRX," ungkap Jung.
Jung juga mengungkapkan mengenai sejumlah emiten KRX yang sudah melakukan pencatatan ganda (dual listing) di bursa-bursa saham di negara-negara barat.
"Ada sekitar 40 emiten kami yang sudah dual listing di NYSE, SSX, dan sebagainya," ungkap Jung.
Dari Indonesia, Jung mengharapkan dalam satu dua tahun ke depan, setidaknya ada 5 perusahaan Indonesia yang listing di KRX.
(dro/ir)
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Komentar terkini (0 Komentar) ·
Follower Komentar 0
Berita Terpopuler
-
Rabu, 08/02/2012 20:33 WIB
Dahlan Iskan Bakal 'Hilangkan' 20 BUMN -
Rabu, 08/02/2012 17:33 WIB
Naik 3%, Ini Daftar Baru Gaji Pejabat & Karyawan BI -
Jumat, 03/02/2012 12:33 WIB
Wanita Cantik Ini Raup Rp 383 Miliar dari Start-Up dengan 14 Staf -
Rabu, 08/02/2012 07:25 WIB
Bangun Jembatan Rp 100 Triliun, Tomy Winata Dekati BUMN China -
Rabu, 08/02/2012 14:15 WIB
Oknum PNS Lakukan Transaksi Mencurigakan Hingga Rp 8 Miliar di 10 Bank
Komentar Terpopuler
-
Rabu, 08/02/2012 - 22:50
Wow! Utang RI Dekati Rp 2.000 Triliun di 2012 -
Rabu, 08/02/2012 - 12:15
SBY: Ada Jutaan Orang Tidur Tak Nyenyak karena Perut Lapar -
Senin, 06/02/2012 - 09:58
Pemerintah Dikritik Hobi Ngutang -
Selasa, 07/02/2012 - 12:19
Pendapatan Per Kapita Orang Indonesia Naik 17% Jadi Rp 31 Juta -
Senin, 06/02/2012 - 15:10
Amankan Subsidi, Cukup Naikkan BBM Rp 1.000!
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com






Sending your message


---125x125.gif)

