Berita Lain
-
Kamis, 09/02/2012 17:18 WIB
Pengusaha Ritel Bantah Minimarket Makin Menjamur di Jakarta -
Kamis, 09/02/2012 16:46 WIB
PT Pos Siap Kirim 245.000 Surat & 16.000 Paket di 2012 -
Kamis, 09/02/2012 15:46 WIB
Ical Sindir Pemerintah Soal Ekonomi RI Belum Merata -
Kamis, 09/02/2012 15:37 WIB
Awas! Ritel Asing Pakai Perusahaan Lokal Sebagai 'Boneka' -
Kamis, 09/02/2012 13:51 WIB
7 Gubernur Siap Realisasikan Surplus 10 Juta Ton Beras, Tapi... -
Kamis, 09/02/2012 13:08 WIB
PPATK Laporkan Lagi 6 Transaksi Mencurigakan PNS Kemenkeu
Indeks Berita
Rumor Saham
Bergerak Menuju Rp 500, Saham TELE ditawar ZTE?
Perusahaan provider telekomunikasi asal China, ZTE, dikabarkan berniat menguasai sebagian saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE). Harga....
0 Komentar | Balas Tanggapan
0 Komentar | Balas Tanggapan
Peluang Usaha
Bos Coffee Toffee Ini Kembali Bangkit Setelah Kena Tipu
Sebagian orang mungkin sudah tak asing dengan pemilik Coffee Toffee Odi Anindito. Dibalik kesuksesannya saat ini membangun gerainya, Odi ternyata pernah tertipu dan kemudian bangkit lagi.
Sosok Dan Peristiwa
Tinjau Sapi di Jambi, Dahlan Iskan Setir Mobil Sejauh 40 Km
Hari ini Menteri BUMN Dahlan Iskan mengunjungi peternakan sapi milik PTPN VI di Jambi. Ada yang unik, mantan Dirut PLN menyetir sendiri sejauh 40 Km. Wush...
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 600.000
-
Rp 1,408.000
Forum Finance register | login
Thread Pilihan
Kamis, 09-02-2012 18:13 WIB
Ironis! Belajar dari RI, Argentina Sukses Konversi BBM ke Gas
Posted by: kaptenDF
Senin, 17/11/2008 18:45 WIB
RI Boleh Pakai Fasilitas Pendanaan Darurat IMF
Wahyu Daniel - detikFinance
Anggito Abimanyu (dnl)
Indonesia termasuk negara yang boleh mengakses fasilitas pendanaan darurat baru Short-Term Liquidity Facility (SLF) yang baru saja diluncurkan IMF.
Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu dalam jumpa pers di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (17/11/2008).
"Kebutuhan pembiayaan di tengah krisis menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan G20 di Brasil, baik pembiayaan untuk neraca pembayaran atau APBN," jelasnya.
Anggito mengatakan salah satu klausul yang diajukan pemerintah Indonesia dan diterima dalam pertemuan tersebut adalah agar ada fasilitas pembiayaan short term liquidity dan dana ini melalui IMF.
"Untuk kali ini untuk short term diberikan tanpa ada kondisionalitas, jadi beda dengan bantuan likuiditas terdahulu," ujarnya.
Memang dalam klausul hasil pertemuan G20 di Brasil dikatakan dalam mengatasi krisis, dimana ekspor pasti akan terganggu yang dikhawatirkan akan mengganggu neraca pembayaran, maka diperlukan adanya bantuan pembiayaan untuk neraca pembayaran.
"Jadi dalam hasil pembicaraan, bantuan likuiditas dari IMF ini bentuknya berbeda, dimana sifat pencairannya cepat dan tanpa kondisionalitas, namun hanya untuk negara-negara dengan track record kebijakan ekonomi yang kuat. Dan Indonesia masuk di dalamnya," paparnya.
Namun Anggito mengatakan Indonesia masih belum membutuhkan bantuan tersebut saat ini. "Cadangan devisa kita masih memadai, kita masih mampu membiayai impor dan utang luar negeri," imbuhnya.
Lalu klausul kedua yang diajukan oleh Indonesia dan disepakati dalam pertemuan itu adalah mengenai pinjaman multilateral untuk pembiayaan APBN.
"Kita tahu 90% pembiayaan APBN dari obligasi negara, tahun depan kalau pemerintah tidak bisa jual bond karena pasar destruktif maka yang menyediakan pembiayaan ini adalah multilateral development banks seperti Bank Dunia," katanya.
Jadi untuk memenuhi pembiayaan APBN Indonesia meminta dukungan dari lembaga multilateral seperti Bank Duniaselama terjadi distorsi terhadap pembiayaan dari pasar. "Tapi pembiayaan ini diperuntukkan bagi negara-negara yang mempunyai track record kebijakan fiskal yang bagus," tambahnya.
Alasan beberapa negara berkembang termasuk Indonesia mengajukan klausul ini adalah karena kondisi situasi saat ini dimana terjadi krisis di AS, banyak dana-dana beralih ke obligasi negara AS.
"AS saat ini banyak menerbitkan T-Bills untuk membiayai defisitnya apalagi ada program bailout pemerintah, jadi ini menyebabkan capital outflow di negara berkembang. Di Indonesia juga terjadi penurunan SUN dan saham, jadi AS yang krisis kita jadi korban, karena itu kita meminta kemudahan ini," tuturnya.
Anggito juga mengatakan untuk mengatasi kebutuhan pembiayaan APBN di 2009, Indonesia telah melakukan penjajakan standby loan yang dikatakan Anggito jumlah yang sudah disepakati lebih dari US$ 5 miliar.
"Jumlah tersebut didapat dari Bank Dunia, Jepang, Inggris, AS, Cina, Perancis dan Timur Tengah," paparnya.
(dnl/qom)
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Komentar terkini (0 Komentar) ·
Follower Komentar 0
Berita Terpopuler
-
Kamis, 09/02/2012 12:04 WIB
Awas! Polisi Bakal Kawal Sensus Pajak -
Kamis, 09/02/2012 10:59 WIB
Tinjau Sapi di Jambi, Dahlan Iskan Setir Mobil Sejauh 40 Km -
Kamis, 09/02/2012 11:27 WIB
Diremehkan Tawar Bank Mutiara Rp 6,7 Triliun, Ini Jawaban Bos Yawadwipa -
Kamis, 09/02/2012 19:11 WIB
Gawat! Banyak Maling, Hanya 14% BBM Subsidi Tepat Sasaran -
Kamis, 09/02/2012 18:01 WIB
Sudah Banyak Untung, Saatnya Bank Turunkan Bunga Kredit!
Komentar Terpopuler
-
Kamis, 09/02/2012 - 17:26
Wow! Utang RI Dekati Rp 2.000 Triliun di 2012 -
Kamis, 09/02/2012 - 21:02
SBY: Ada Jutaan Orang Tidur Tak Nyenyak karena Perut Lapar -
Senin, 06/02/2012 - 09:58
Pemerintah Dikritik Hobi Ngutang -
Kamis, 09/02/2012 - 16:33
Pendapatan Per Kapita Orang Indonesia Naik 17% Jadi Rp 31 Juta -
Kamis, 09/02/2012 - 13:57
Dahlan Iskan Bakal 'Hilangkan' 20 BUMN
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com






Sending your message


---125x125.gif)

